be a Human Being

Find, do, and show your life

Banner 468 x 60

Loading...

PEMIKIRAN FILSUF ZAMAN PATRISTIK (Yustinus Martir, Clemens, Tertulianus, Augustinus)


oleh: Ahmad Muzaqqi dan A. Fajrur Rahman



Zaman Patristik
Patristik diambil dari kata Peter yang berarti “bapak” maksud bapak disini adalah bapak pemimpin gereja. Ketika peradaban Yunani mulai tersebar muncullah perbedaan pendapat di antara para pemimpin gereja tentang perlu tidaknya filsafat dalam mewarnai peraturan-peraturan dan kebijaksanaan yang mereka keluarkan. Perbedaan tersebut dibagi menjadi dua kategori:
Pertama, segolongan orang yang menolak filsafat dikarenakan mereka sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman Tuhan dan tidak perlu menerima yang lain seperti filsafat Yunani.
Kedua, segolongan orang yang menerima filsafat sebagai kebijaksanaan yang diambil. Walaupun sudah mempunyai sumber kebenaran tidak ada jeleknya menggunakan filsafat yunani sebagai metode (cara berpikir), selama tidak bertentangan dengan agama.
Perbedaan tersebut berkelanjutan sehingga menyebabkan pertikaian. Kemudian, muncullah para pembela iman kristen dari serangan filsafat Yunani. Para pembela iman kristen tersebut disebut Apologist, yang bertokohkan Justinus Martir, Irenaeus, Klemens, Origenes, Gregorius, Nissa, Tertullianus, Diosius Arepagos, Aurelius Agustinus.
  1. Yustinus Martir (103-165 M)
Orang-Orang Apologis menggunakan Filsafat Yunani  untuk membela Injil, begitu juga Justinus. Martir diambil dari Istilah orang-orang yang rela mati hanya untuk kepercayaannya dan menurut pendapat yang lain akhir hidupnya dia menjadi martir.
Riwayat Hidup         
Flavius Justinus aktif mempelajari ajaran-ajaran Stoa, Phytagoras, Arisroteles, dan sekarang menganut sistem pemikiran Plato. Ia menjadi pemeluk kristen setelah merenungkan tulisan dalam Injil, Taurat dan surat-surat Paulus. Dia bertemu dengan seorang pertapa di padang sunyi Palestina yang menerangkan kepadanya tentang para Nabi yang terdapat di dalam Perjanjian Lama. Akhirnya, dia menemukan kebenaran sejati tentang agama kristen dan bertobat menjadi pemeluk kristen pada Tahun 130 M. Kemudian dia mengajarkan kristen di Efesus.
Pemikiran tentang Agama Kristen:
 Agama Kristen bukan agama baru, karena kristen lebih tua dari filsafat Yunani, dan Nabi Musa dianggap sebagai awal kedatangan agama Kristen. Nabi Musa lebih dahulu datang sebelum Socrates dan Plato. Socrates dan Plato menurunkan hikmah dengan memakai hikmahnya Musa. Selanjutnya, dikatakan bahwa filsafat Yunani itu mengambil dari kitab Yahudi. Pandangan ini didasarkan bahwa Kristus adalah logos. Dalam memahami logosnya orang-orang Yunani kurang paham apa yang terkandung dan memancar dari logosnya, yaitu pencerahan. Mereka telah menyimpang dari ajaran murni karena terpengaruh oleh demon atau setan. Kemudian setan menyimpangkan dari pengetahuan yang benar kepada pengetahuan yang dipalsukan sehingga, agama Kristen lebih bermutu dibandingkan dengan filsafat Yunani.
Karya-karya Justinus  masih eksis hingga sekarang, karyanya yang pertama kali adalah Apologia yang ditujukan kepada kaisar Antonius Pius dan masih banyak karyanya yang bukan hanya tertulis.
  1. Titus Flavius Clemens (150-215 M)
Klemens dilahirkan di Alexandria. Ia adalah teolog kristen, mengajar di sekolah kristen Katekis Alexandria. Ia adalah seorang yang terpelajar akrab dengan filsafat Yunani dan literatur, Seperti tiga karya besarnya dia terpengaruh filsafat Hellenestik tingkatnya lebih besar dibanding pemikir kristen yang lainnya pada masanya khususnya pemikiran Plato dan aliran Stoa. Dalam pekerjaannya tercantum dalam fragmen yang membuktikan bahwa dia akrab juga dengan pra-kristen Yahudi esoterisme dan Gnostisisme, muridnya Alexander dari Yerussalem dan Origen. 
1.   Pemikiran tentang Tuhan:
Memahami Tuhan bukan dengan keyakinan irasional, melainkan melalui disiplin pemikiran rasional. Filsafat merupakan awal langkah yang baik untuk mengetahui Tuhan. Menurutnya Tuhan itu di luar kategori ruang dan waktu. Jadi Tuhan itu transendens. Pengetahuan yang tinggi tentang Tuhan hanya mencapai sifat-Nya, bukan esensi-Nya, ataupun Dzat-Nya. Bahkan, pengetahuan tentang sifat Tuhan tidaklah tuntas sebab semua sifat Tuhan itu juga esensial. Oleh karena itu Klemens mengajarkan pengetahuan tentang Tuhan haruslah dicapai melalui logos, bukan dengan akal rasional. Selanjutnya Klemens menjelaskan hubungan Tuhan dan manusia dicapai dengan logos. Melalui logos Tuhan memperlihatkan kuasa-Nya, menciptakan alam semesta, dan melalui logos manusia mengenal Tuhan. Logos dipakai oleh Erness sebagai jembatan antara dunia spiritual dan material.
2.   Tentang persamaan jenis
Persamaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan tergambarkan dalam ekaristi ”payudara (kristus) dari Bapa”,yang mencerminkan bahwa keselamatan ditujukan kepada semua manusia.
3.   Tentang Dewa-Dewa
Klemens mengungkapkan penyataan atas filsafat Yunani tentang kebiasaan menyembah dewa-dewa:
Ya, seandainya sapi-sapi, kuda-kuda dan singa-singa memiliki tangan, dan tangannya bisa menggambar dan menghasilkan karya-karya seperti manusia, para kuda pasti akan menggambarkan tuhan-tuhan mereka mirip dengan kuda, dan para sapi mirip dengan sapi, menggambarkan tubuh para dewa itu serpti tubuh masing--masing dari mereka.”

Kemudian dia juga menulis tentang cara umat manusia dalam membayangkan tuhan; “Kaum mortal (umat manusia) membayangkan bahwa para tuhan itu dilahirkan seperti diri mereka, bahwa mereka memiliki baju, suara dan tubuh mirip dengan milik mereka[1]
  1. Tertulianus (160-230 M)
Quintus Septimius Florens Tertullianus (nama lengkap Tertulianus) lahir, hidup, dan meninggal di Kartago (sekarang Tunisia). Ia berasal dari keluarga pagan (kafir: bukan kristen), namun pada perkembangannya ia menjadi pembela kristen yang fanatik. Pada awalnya, ia juga bukan seorag filsuf, ia menolak filsafat dengan begitu keras, ia menganggap bahwa kebenaran berasal dari agama (kristen), dan agama tidak ada hubungannya dengan filsafat. Namun, pada akhirnya ia pun menerima filsafat sebagai pencari kebenaran dengan jalan rasio (akal).
Pemikiran Tertulianus:
a. Tritunggal
Pada tahun 196 ketika Tertulianus mengalihkan kemampuan intelektualnya pada pokok-pokok Kristen, ia mengubah pola pikir dan kesusasteraan gereja di wilayah Barat hingga digelari "Bapak Teologi Latin" atau "Bapak Gereja Latin". Ia memperkenalkan istilah "Trinitas" (dari kata yang sama dalam bahasa Latin). Tertulianus tidak mengambil terminologi dari para filsuf, tetapi dari Pengadilan Roma. Kata Latin substantia bukan berarti "bahan" tetapi "hak milik". Arti kata persona bukanlah "pribadi", seperti yang lazim kita gunakan, tetapi merupakan "suatu pihak dalam suatu perkara" (di pengadilan). Dengan demikian, jelaslah bahwa tiga personae dapat berbagi satu substantia. Tiga pribadi (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dapat berbagi satu hakikat (kedaulatan ilahi).[2]
Dalam sebuah wacana mengatakan bahwa Tuhan yang pertama (Bapa) diibaratkan sebagai seorang raja, kemudian mengirimkan diri(ruh)Nya ke dalam rahim Maryam. Kemudia tumbuh dan lahir, itulah Tuhan Anak (disebut Yesus Kristus), Ia pun menjadi wakil si Bapa di bumi (seperti konsep ke-khalifahan manusia).[3] Sedangkan posisi Roh Kudus mirip seperti “distributor” perintah. Dari sini, ia menyimpulkan bahwa tidaklah mungkin ada pertentangan pikiran (rasio: perkataan) antara satu sama lain, karena ketiganya memang satu.
b.Ruh
Meskipun Tertulianus mempersoalkan "Apa urusan Athena (filsafat) dengan Yerusalem (gereja)?", namun, filsafat Stoa yang populer pada masa itu turut mempengaruhinya (pada pembahasan konsep dosa). Ada yang berkata bahwa ide dosa asal bermula dari Stoisisme, kemudian diambil alih Tertulianus dan selanjutnya merambat ke Gereja Barat. Ia berpendapat bahwa roh (jiwa) itu adalah sebentuk benda: seperti tubuh dibentuk ketika pembuahan, maka roh pun demikian. Dosa Adam diwariskan seperti rangkaian genetik.[4]
c. Derajat dan kuasa manusia (termasuk uskup)
Meskipun Tertulianus pernah menekankan ide suksesi para rasul – pengalihan kuasa dan wibawa para rasul kepada para uskup – (mugkin salah satu bentuk upaya kristenisasi), namun ia tidak dapat menerima bahwa para uskup memiliki kuasa mengampuni dosa. Ia berpendapat bahwa ini akan menjurus pada terpuruknya moral. Sementara itu para uskup terlampau yakin akan kuasa tersebut. Bukankah semua orang percaya adalah imam? Apakah ini Gereja para orang kudus yang dikelola mereka sendiri, ataukah sekumpulan orang kudus dan orang-orang berdosa yang dikelola "kelas" profesional yang dikenal sebagai rohaniwan?.[5] Hal itu digunakan olehnya sebagai penolakan adanya “kuasa” manusia untuk mengatur yang lain secara mutlak, terlebih dalam ke-ilahi-an.
  1. Augustinus
    Augustinus lahir di Tagaste, Aljazair, Afrika Utara, 13 November 354 M sebagai putra seorang ibu yang saleh yaitu Momika. Ayahnya bernama Patricius, seorang tuan tanah kecil dan anggota dewan kota yang kurang taat beragama hingga menjelang akhir hayatnya. Augustinus dididik dan dibesarkan secara Kristen kendatipun karena adat istiadat yang berlaku pada masa itu, ia tidak dibaptiskan ketika masih bayi. Augustinus memperoleh pendidikan dasar di Tagaste dan secara khusus mempelajari bahasa latin dan ilmu hitung.

    Pemikiran Augustinus:
a. Jiwa (batiniyah)
Barangkali satu-satunya kontribusi yang terbesar Augustinus bagi filsafat barat (dan bukan hanya pemikiran Kristen) ialah penekanannya pada kehidupan personal, kehidupan batiniah seseorang. Augustinus melihat hubungan antara Tuhan dan jiwa manusia sebagai perhatian utama agama. Karena jiwa diciptakan “dalam citra Allah”, pengetahuan diri menjadi alat untuk mengenal Tuhan, tak lagi dipahami sebagai soal pengamatan dua akal budi, tetapi juga masalah perasaan.[6] Sehingga dalam mengenal Dia, tidak lah mungkin hanya menggunakan akal (rasio: dalam arti sempit), namun juga perasaan (batiniyah).
b.Pengetahuan dan Panca Indera
Menurut Augustinus, mengetahui adalah salah satu aktivitas dari jiwa. Jadi ketika seseorang melihat suatu objek dengan pancainderanya, maka muncul suatu gambaran tentang objek tersebut, gambaran tersebut, menurut Augustinus, dibentuk oleh jiwa atau akal budi. Misalnya ia melihat dan mengatakan, bahwa baju itu bagus, menurut Augustinus, dengan mata kita hanya mampu melihat sebuah baju, tetapi kata bagus yang ditambahakan merupakan hasil perbandingan dengan objek lain yang dibuat oleh jiwa atau akal budi. Dari sini kita sudah dapat menarik suatu pemikiran, bahwa dalam mencapai suatu pengetahuan yang mendalam ternyata manusia harus menggunakan akal budinya atau jiwanya.[7] 

Sedangkan beberapa sfat pokok dari ajaran filsafat Augustinus menurut Salam (2000:49), seperti yang tercantum dalam seebuah makalah[8] adalah sebagai berikut :
c. Manusia dan agama tidak boleh dipisahkan. Tanpa kepercayaan dari agama, manusia akan sesat, dan tanpa akal, orang tak akan memperoleh pengertian yang jelas tentang kepercayaan dan agama itu. (mirip kata-kata Einstein)
d.                  Kehendak manusia berpangkal diatas akal, dan cinta kasih sayang mempunyai arti kesucian diatas ilmu pengetahuan. Juga berlaku terhadap Tuhan, sedang Tuhan terutama berarti cinta kasih sayang.
e. Roh/jiwa agak bebas terhadap raga dan jiwa mengenal dirinya secara langsung dan intuistif, yang terdiri atas “kebendaan” dan “bentuk”.
f. Spiritualisme yang antropologis (jiwa itu tak lain dari manusia itu sendiri) berjalan berdampingan dengan spiritualisme yang bersifat teori mengenal.
g.Kebendaan itu pada hakikatnya cahaya. Bahwa jiwa menghendaki tubuh dan tubuh menghendaki jiwa merupakan pandangan yang dualistis.[9]

Daftar Pustaka
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedi bebas/Clemens-Alexandria.com
Id.wikipedia.org/wiki/tertulianus
“Trinitas” dalam pikiran Tertulianus, Sarapan Bagi Biblika. (internet)
Boharudin, Makalah “Riwayat dan Pemikiran St. Augustinus” dalam Bimbingan dan Konseling, 21 April 2011 (internet)
Koko Istya Tomorubun, “Pemikiran St. Augustinus tentang Pengetahuan dan Panca Indera” (internet)


[1] Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedi bebas/Clemens-Alexandria.com
[2] Id.wikipedia.org/wiki/tertulianus
[3] “Trinitas” dalam pikiran Tertulianus, Sarapan Bagi Biblika. (internet)
[4] Id.wikipedia.org/wiki/tertulianus
[5] Ibid.
[6] Boharudin, Makalah “Riwayat dan Pemikiran St. Augustinus” dalam Bimbingan dan Konseling, 21 April 2011 (internet)
[7] Koko Istya Tomorubun, “Pemikiran St. Augustinus tentang Pengetahuan dan Panca Indera” (internet)
[8] Boharudin, Makalah “Riwayat dan Pemikiran St. Augustinus” dalam Bimbingan dan Konseling, 21 April 2011 (internet)
[9] Ibid.